" Assalamu’alaikum ", salamku begitu terdengar nada telephone diangkat.
" Wa’alaikumsalam " suara Fee’ menjawab salamku.
" Gie ngapain ? gie sibuk kerja yah "
" Hehehehe baru bangun nih. Hari ini kerjaan libur.
Ada
apa ?"
" Engga ada apa-apa sih. Aku cuma lagi suntuk aja di rumah. Pengen jalan-jalan keliling
Jakarta
."
" Emang mau kemana ?"
"Ya
belum tau juga sih, hari Jum’at gini semua temen pada sibuk kerja.
Makanya gak tau mau ngajakin siapa buat jalannya, trus keinget kamu deh
yang kerjaannya nomaden gitu."
"Nomaden
gimana….. kamu ngaco ah, tapi ok lah nanti sorean aku antar. Hari ini
aku ada janji ketemu dengan klien. Nanti kalo sudah selesai aku kabarin
ya."
" OK deh kalo gitu. Aku tunggu yah"
" Seep. See Yaa "
" See Yaa "
********
Beberapa jam
kemudian, aku dan Fee’ sudah berada di salah satu sudut caffe
dibilangan Jakarta Pusat. Di luar jendela aku lihat mendung
menggelayuti langit
kota
Jakarta
.
Sambil berbincang, aku ditemani minuman favorit ku, secangkir coklat
panas. Sedangkan Fee’ lebih memilih hot cappucino kesukaannya.
"
Ada
masalah apa sebenarnya sih Ra ?", tanya sahabatku seolah mampu menyelami hatiku yang sedang gundah.
" Suamiku selingkuh Fee’ "
" What ..??!! "
" Ya.. Dia telah selingkuh, tadinya aku tidak percaya dengan segala apa yang telah diucapkan perempuan itu padaku. "
" Terus.. darimana kamu bisa sebegitu yakin kalau suami kamu sudah benar-benar selingkuh?"
" Dari pengakuan suamiku sendiri "
" Maksudmu, kamu sudah menginterogasi suami kamu begitu ? "
"Sebenarnya
aku tidak bermaksud menginterogasi dia. Aku hanya bercerita bahwa ada
seorang perempuan yang datang kepadaku dan mengaku bahwa dia
selingkuhan suamiku, terus mengalirlah pengakuan itu dari dia" sampai disini kembali kelopak mataku terasa perih.
Ada
air mata yang menggenang disana. Buru-buru aku seka dengan selembar tisu sebelum air itu menetes di pipiku.
Fee’ menggenggam tanganku, seolah ingin menyalurkan ketenangan lewat tangannya kepadaku.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, akhirnya aku mampu menumpahkan
segala beban di dadaku. Tentang bagaimana sakit dan hancurnya hatiku
mengetahui perselingkuhan yang telah dilakukan suamiku. Sesekali aku
harus menghentikan ceritaku, agar tangisku tidak meledak.
" Sekarang aku bingung Fee’, aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak tau keputusan apa yang sebaiknya aku ambil…."
" Untuk sekarang, kamu tidak perlu mengambil keputusan apa-apa, karena aku tau kamu dalam kondisi yang tidak stabil."
"Tapi
aku tidak mau berlama-lama dalam kondisi seperti ini Fee’, aku tidak
sanggup. Sampai saat ini jalan yang terbaik yang terfikir hanyalah
minta cerai."
"Vara,
aku yakin kamu juga sudah tau bahwa Tuhan sangat membenci perceraian.
Namun seperti kita tau Tuhan juga tidak melarang tentang hal itu. Hanya
saja menurutku jangan terlalu cepat mengambil keputusan di saat hati
dan pikiran kita sedang labil."
"Jangan
sampai kamu melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah aku
lakukan. Kamu tau Ra, sebuah perceraian itu sangat menyakitkan. I’ve
been there before, and I regret it ’till now. If I could stop the time,
I’m sure I’ll turn it back. Tapi semua sudah terjadi, hanya karena
terbawa emosi akhirnya aku seperti yang sekarang kamu lihat."
"Aku
tau Ra, kamu sangat menyayangi suamimu. Begitu juga suami kamu. Diluar
apa alasan suami kamu melakukan kesalahan itu, aku tau kalian saling
membutuhkan. Tolong Ra jangan terlalu impulsif… redam dulu amarah
serta emosi kamu, mohon petunjuk-Nya. Aku yakin Tuhan akan memberikan
jalan terbaik."
Aku menyeruput coklat panas yang tidak lagi panas. Ini gelas kedua untukku.
Aku masih mendengarkan wejangan-wejangan yang diberikan sahabatku for a couple of hour.
Aku lihat di luar sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalanan sudah menyala terang.
Setelah meyakinkan Fee’ kalau aku sudah merasa lebih baik, kami memutuskan mengakhiri pertemuan.
********
Satu minggu
sudah berlalu sejak perbincanganku dengan Fee’. Dan selama itupula aku
berkomunikasi dengan suami hanya melalui sms, meskipun kami masih
tinggal dalam satu rumah. Itupun aku lakukan apabila ada hal-hal yang
penting saja. Aku masih diliputi perasaan yang tidak menentu. Satusisi
aku ingin memaafkan kesalahannya, tapi disisi lain ketika mengingat
apa yang telah dia lakukan padaku, kembali hati ini tersayat. Di satu
sisi aku sudah tidak sanggup dengan pengkhianatannya, namun disisi lain
aku tidak mau kehilangan dia. Aku berada di persimpangan yang
membingungkan.
" Hun, kenapa sih milih aku buat jadi istrinya sayangku ?" tanyaku disuatu senja di teras rumah kami.
" Kenapa memangnya.. kok tiba-tiba nanya nya begitu ?" dia menatapku heran.
" Yee… pasti gitu deh, kebiasaan kalo ditanya bukannya ngejawab tapi malah balik nanya."
" Ya abisnya… gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba nanya begitu. Emang abis nonton apaan ato abis ada kejadian apa sihhh…"
" Ya engga ada, cuman pengen nanya aja. Ayo donk Hun di jawab…" rajukku.
" Ehem.. ehem… hehehehe… begini ya Sweetyku… Hm… kenapa yaahh… waduh susah nih ngejawabnya.."
" Yeeeeeee…."
" Ok.. Ok…"
"Kenapa
aku milih sweetyku buat jadi istriku, karena aku yakin sweety kubisa
menjadi istri sekaligus ibu yang baik buat anak-anakku. Aku yakin
sweetyku bisa membuat nyaman suami sekaligus anak-anak kita nanti."
" Terus…"
" Terus… karena aku merasa kekuranganku ada di sweetyku. Menjadi kelebihannya sweetyku. Begitu…"
" Udah..??" kejarku kurang puas.
" Udah."
" Kok jawabnya bukan karena sayangku cinta aku sih…" protesku.
"Sweety..
cinta itu bisa tumbuh dengan cepat, namun bisa padam secepat dia
menyala. Tapi aku sayang sama sweetyku, dan buat aku tingkatan sayang
itu sudah di atas cinta."
" Hooo.. gitu yah."
"Hun…
aku kasih tau satu rahasia yah…", lanjutku sambil menyusup kedalam
pelukan suamiku. " Jaman SMA dulu aku sudah nentuin kriteria untuk
calon suami lho. Di antaranya, dia harus lebih pinter dari aku disisi
agama, tapi di bidang umum juga harus lebih pinter dari aku."
" Tapi dapatnya gak seperti yang diharapkan yah…" godanya.
"Ya
engga juga.. seperti kata sayangku tadi, kelebihanku menutupi
kekurangan sayangku. Begitu juga dengan aku, kelebihannya sayangku bisa
menutupi kekuranganku. Jadinya saling melengkapi gitu."
" Yup betul sekali… tumben istriku pinter yahhh… hahahaha…".
" Sayangggg….. !!!!!" sungutku sambil mencubit pinggang suamiku.
" Awww…. hahaha !!!! "
Aku tersenyum perih mengingat kembali semua kenangan manis itu.
Ahhh… betapa sebenarnya aku sangat menyayangi suamiku. Andaikan
perempuan itu tidak hadir di antara kami, aku tidak akan merasa sakit
seperti ini. Namun apalah lacur, semua sudah terjadi. Dan itu kenyataan
yang harus aku terima, mau tidak mau.
********
Aku
bergegas memasukkan semua keperluanku ke dalam mobil. Tidak lupa aneka
roti unyil kesukaan suamiku serta buah naga kesukaan papa mertua. Hari
ini aku akan menyusul suami ke rumah mertua. Sudah dua hari suamiku
pulang kesana untuk membantu mama menjaga papa karena kondisi
kesehatannya menurun.
Dalam
perjalanan, pikiranku kembali berkecamuk. Antara membenarkan tindakanku
yang memaafkan dan perasan sakit hati yang mendera.
Perasaan terluka, terkhianati, kecolongan datang silih berganti dengan
kenyataan bahwa aku masih sangat menyayanginya, teramat mencintainya.
Seperti yang Fee’ pernah katakan padaku, cinta… kebahagiaan sejati
itu membutuhkan pengorbanan.
Tapi aku juga tidak tau bahwa ternyata pengorbanan untuk meraih kebahagiaan itu demikian berat dan sakitnya.
Kembali
terbayang kejadian ketika wanita itu datang padaku. Menceritakan semua
hal yang dialaminya bersama suamiku. Ya seorang suami yang kepadanya
aku letakkan seluruh kepercayaanku. Saat itu aku hanya mampu terbisu,
karena aku merasa seakan jiwaku sudah pergi meninggalkan raga. Jiwa dan
perasaanku tersayat. Terluka. Bagaimana mungkin suamiku tega melakukan
hal itu. Bagaimana mungkin suamiku tega mengkhianati perkawinan kami.
Apa salahku? Apa yang salah pada perkawinan kami? Selama ini semua
baik-baik saja tanpa ada tanda pernikahan kami bermasalah. Kalaupun ada
riak-riak kecil, itu masih dalam taraf yang sangat wajar dalam suatu
rumah tangga. Sudah bosankah suamiku kepadaku? sudah jenuhkah dia
menghadapiaku ?. Berbagai pertanyaan yang tidak berujung memenuhi
kepalaku. Ya Tuhan… terlalu berlebihankah apabila aku menginginkan
hidup dalam cinta, damai dan kebahagiaan ???
Semahal inikah harga cinta dan kebahagiaan yang ku impikan itu ???
Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga tidak menyadari mobilku
sedang melintas di rel kereta api yang tidak berpalang pintu. Dan aku
juga tidak mendengar teriakan maupun klakson yang sahut menyahut
mencoba mengingatkanku. Ketika aku tersadar, semua sudah terlambat.
Terlambat bagiku untuk menghindar.
Aku hanya mampu menjerit menyadari kereta itu sudah di depan mata.
Sebelum akhirnya kegelapan yang aku rasakan. Detik berikutnya, aku
merasa demikian ringan. Aku tidak merasa sakit di tubuhku. Aku melihat
mobilku yang hancur terlindas kereta di kerumuni orang.
Aku melayang tinggi.
Semakin tinggi dan menjauh.
Membayar lunas harga cintaku.
********
Harlam
tertunduk lesu di samping gundukan tanah merah yang masih basah.
Tergambar jelas di raut wajah sedihnya kalau batinnya sedang menangis
pilu. Secarik kertas ada di genggamannya. Sejuta penyesalan terbias
diwajah piasnya.
Dear Hunnyku..
Hun,did
you know how badly you hurt me ??? mungkin rasanya seperti seorang ibu
ketika melahirkan (tapi aku belum tau rasanya melahirkan Hun,makanya
aku bilang mungkin hehehe). But still Hun … rasa sayangku lebih besar
ketimbang bencinya. Pengen sih Hun aku kabur saja meninggalkan sayangku
terus menghilang gitu, bahkan sempat terfikir untuk membalas perlakuan
sayangku ke aku. Tapi ternyata aku tidak mampu melakukannya. Aku tidak
sanggup. Akhirnya aku sampai pada keputusan ini. Memaafkan sayangku.
Karena aku juga tidak mau selamanya menanggung beban sakit hati ini. I
Just want to live in love, peace, and happiness… itu saja…
p.s : Hun.. roti unyil ini aku sendiri yang bikin lho, dimakan yah. Ada juga yang rasa durian,
kan
sayangku paling suka rasa durian. Another surprise for you Hun…. I’m pregnant :)… for two week’s now.
Luv You,
Vara